Retak

Tebing-tebing mendengarkanku
Dalam sukma jeritan perihku
Merayuku untuk selalu tegar
Tetapi, hati ini tak pernah memudar
Retak, retak, retak
Selalu begitu jantung berbicara lewat irama
Menusukku bagaikan arak beraroma
Yang membuat aku terpenjara dalam zina
Pepohonan melambaikan kekhawatiran untukku
Angin menderu acuh padaku
Dan kini aku masih sempat mencintainya
Pupus, dia sudah melupakanku
Mengapa harus terjadi seperti ini?
Dikala aku merindu hatiku api
Begitu panas seperti matahari
Cukup rasanya ingin ku menari
Kepedihan, keperihan, kerinduan air mata yang jatuh di bumi
-AR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alangkah Indahnya Bumi

Kenangan Masa Lalu: Jingga dan Abu

Jujur Itu Penting!