Dikira Permen, Taunya...


          Flashback ketika aku berumur 5 tahun, aku tinggal di Ciceri Kota Serang bersama Ayah dan Ibu serta adik kecil aku bernama M. T.  Al-haris atau biasa dipanggil dede. Dulu seinget aku, rumah di ciceri sangat sederhana sekali. Rumah tersebut belum di cat warna, hanya batu bata dilapisi semen abu. Di dalam rumah, terdapat TV mungil yang jikalau dinyalakan berwarna hitamputih. Toiletnya yang kadang suka ada cucunguk. Taulah cucunguk, sejenis serangga seperti kurma. Menggelikan dan menakutkan. Menggelikan ketika si serangga itu berjalan cepat dan terbang kecil-kecil juga menakutkan dikala dia terbang. Swuinggg... begitulah dia terbang. Selain toilet, hanya terdapat satu kamar dan satu ruang tamu. Ya, ruang tamu tersebut untuk kamar juga akhirnya. Belum ada kipas angin pula. Ruangannya pun tak jarang si hisap darah menyerbu. Membuat badan pada bentol-bentol. Gatel deh! 
            Si hisap darah senang kalau begitu. Ibu aku selalu siap siaga menyalakan apa-itu-namanya-yang-bulat-berwarna-hijau-tua-kalau-dinyalakan-sedikit-demi-sedikit-habis-menyisakan-abu. Supaya si hisap darah berkurang populasinya. Begitulah hebatnya Ibu. Selain bisa memukul cucunguk dengan sandal, jago juga dalam menyergap si hisap darah. Si hisap darah K.O dah. Teparrz. 
            Akan tetapi, walaupun rumahku amat sangat sederhana. Berbeda dengan halamannya yang begitu luas seluas padang pasir Sahara. Di halaman ini, terdapat Bale yang terbuat dari bambu juga biasanya digunakan untuk duduk menikmati indahnya senja. Selain itu, ada rumput-rumput liar yang tak jarang belalang dan cangcorang hinggap disana. Bahkan pernah juga ada ular kecil menyelip di sudut-sudut rumput liar itu. Lalu, terdapat  juga banyaknya pohon pisang yang mengelilingi pagar kayu rumahku. Di tengah halaman rumahku inilah terdapat sebuah empang kecil. 
            Ngomong-ngomong tentang rumahku, disinilah kenangan pahit dimulai. Dimana ketika aku, Ayah, Ibu serta adik aku mudik ke Bandung. Televisi diambil oleh si pencuri. Pencuri oh pencuri. Aku baru mengetahui tentang itu waktu aku menginjak SD. Ayahku bercerita masa kelam tersebut. Jangan baper ya. 
            Rumahku dulu juga, dimana tempat pertama kalinya aku diberikan sebuah anting kecil oleh ayah aku. Antingnya lucu selucu aku waktu kecil. Sekarang mah biasa aja ko.Mengenai anting, hal bodoh yang aku lakukan sampai menyebabkan hilangnya si dia pemberian ayahku adalah waktu itu aku sedang bermain di halaman rumah. Tiba-tiba ada seorang nenek tua yang menawarkan sesuatu kepadaku. Nenek tua itu berkata kepadaku “Neng.. Mau permen gak?” katanya. Sontak aku kegirangan, anak kecil mah mau aja apalagi yang manis-manis. Semanis kamu. *plis deh jangan ngegombal mulu neng *
            Aku pun mengangguk kepada sang nenek. Tetapi, kata sang Nenek lagi “Kamu harus menyerahkan anting kamu, ditukar sama permen ini”. Akhirnya aku pun menyetujui permintaannya dengan menyerahkan anting pemberian ayahku. Ketika pertukaran kedua benda itu, aku mendapatkan sebungkus kertas. Dikira sebungkus kertas itu isinya permen, taunya batu. Sekali lagi, aku bodoh. Mudah percaya pada si nenek. Dikira permen, taunya batu. 
            Setelah selesai mendapatkan ini, tatkala tanpa kusadari si Nenek telah kabur. Kaburrrz. 
      Amanat yang bisa dipetik adalah jangan terlalu mudah percaya sama orang lain. Percayalah sama Allah. Karena Allah mengetahui mana orang yang harus kamu percayai atau tidaknya. Allah akan memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya. Walaupun begitu, jangan juga langsung berpikiran negatif kepada orang lain. Karena akan menimbulkan suatu hal yang membuat ketidaknyamanan. Berpikiran negatif membuat hati dan pola pikir yang tidak baik untuk kita sendiri. Teruslah berpikir positif walau kadang menyakitkan hati. Eaaa


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alangkah Indahnya Bumi

Kenangan Masa Lalu: Jingga dan Abu

Jujur Itu Penting!